ANGGARAN DASAR YAYASAN TARBIYATUL ISLAMIYAH TENGGULI (AD YTIT)

ANGGARAN DASAR

YAYASAN TARBIYATUL ISLAMIYAH TENGGULI

NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1

  1. Yayasan ini bernama YAYASAN TARBIYATUL ISLAMIYAH TENGGULI, (selanjutnya dalam anggaran dasar ini cukup disingkat dengan yayasan), berkedudukan dan berkantor pusat di Desa Tengguli, Rukun Tetangga 002, Rukun Warga 006, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, Propinsi Jawa Tengah.
  2. Yayasan dapat membuka kantor cabang atau perwakilan di tempat lain, baik di dalam maupun diluar wilayah Republik Indonesia Berdasarkan Keputusan Pengurus dengan persetujuan Pembina.

MAKSUD DAN TUJUAN

Pasal 2

Yayasan mempunyai maksud dan tujuan di bidang :

  1. Sosial ;
  2. Kemanusiaan ;

Pasal 3

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut di atas, yayasan menjalankan kegiatan usaha sebagai berikut :

  1. Di bidang sosial :
  2. Mendirikan dan mengelola Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD);
  3. Mendirikan dan mengelola Play Group / kelompok bermain;
  4. Mendirikan dan mengelola Taman Kanak – Kanak (TK);
  5. Mendirikan dan mengelola Sekolah Dasar (SD);
  6. Mendirikan dan mengelola Sekolah Menengah Pertama (SMP);
  7. Mendirikan dan mengelola Sekolah Menengah Atas (SMA);
  8. Mendirikan dan mengelola Sekolah Menengah Kejuruan (SMK);
  9. Mendirikan dan mengelola Madrasah Ibtidaiyah (MI);
  10. Mendirikan dan mengelola Madrasah Tsawawiyah (MTs);
  11. Mendirikan dan mengelola Madrasah Aliyah (MA);
  12. Mendirikan dan mengelola Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK);
  13. Mendirikan dan mengelola Perguruan Tinggi;
  14. Mendirikan dan mengelola Pendidikan Ketrampilan dan Pelatihan Kerja;
  15. Mendirikan dan mengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM);
  16. Mengadakan Pembinaan Olah Raga;
  17. Mengadakan Penelitian di bidang ilmu pengetahuan;
  18. Mengadakan studi banding;
  19. Mendirikan dan mengelola balai kesehatan dan / atau Rumah Sakit, Poliklinik dan Laboratorium;
  20. Mendirikan dan mengelola panti asuhan, panti jompo dan panti Wreda;
  21. Di bidang kemanusiaan:
  22. Memberi bantuan kepada korban bencana alam;
  23. Memberi bantuan kepada tuna wisma, fakir miskin, yatim piatu dan gelandangan;
  24. Memberi bantuan kepada pengungsi akibat perang;
  25. Melestarikan lingkungan hidup;
  26. Di bidang keagamaan:
  27. Mengelola sarana ibadah, berupa masjid, musholla dan sebagainya;
  28. Mendirikan dan mengelola pondok pesantren;
  29. Mendirikan dan mengelola taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ);
  30. Mendirikan dan mengelola Madrasah Diniyah (MADIN);
  31. Melaksanakan Syiar Keagamaan;
  32. Studi banding Keagamaan;
  33. Menerima dan menyalurkan amal zakat, infaq, dan sedekah, mendirikan badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ);
  34. Meningkatkan pemahaman Keagamaan dengan mendirikan kelompok Bimbingan Haji dan Umroh;
  35. Meningkatkan pemahaman Keagamaan lewat dakwah, pengajian dan majlis ta’lim;

JANGKA WAKTU

Pasal 4

Yayasan ini di dirikan untuk jangka waktu yang lamanya tidak di tentukan.

KEKAYAAN

Pasal 5

  1. Yayasan mempunyai kekayaan awal yang berasal dari kekayaan pendiri yang di pisahkan menjadi kekayaan yayasan sebagaimana telah disebutkan pada bagian awal akta ini.
  2. Selain kekayaan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1, kekayaan yayasan dapat juga diperoleh dari :
  3. Sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat;
  4. Wakaf;
  5. Hibah;
  6. Hibah wasiat; dan
  7. Perolehan lain yang tidak bertentangan dengan anggaran dasar yayasan dan atau peraturan perundang – undangan yang berlaku.

 

  1. Semua kekayaan yayasan harus dipergunakan untuk mencapai maksud dan tujuan yayasan.

ORGAN YAYASAN

Pasal 6

Yayasan mempunyai organ yang terdiri dari :

  1. Pembina;
  2. Pengurus;
  3. Pengawas;

PEMBINA

Pasal 7

  1. Pembina adalah organ yayasan yang mempunyai kewenangan yang tidak diserahkan kepada pengurus atau pengawas.
  2. Pembina terdiri dari seorang atau lebih anggota pembina.
  3. Dalam hal terdapat hal lebih dari seorang anggota pembina, maka seorang d antaranya di angkat sebagai Ketua Pembina.
  4. Yang dapat di angkat sebagai anggota Pembina adalah orang perseorangan sebagai pendiri yayasan dan atau mereka yang berdasarkan keputusan Rapat Anggota Pembina dinilai mempunyai dedikasi yang tinggi untuk mencapai maksud dan tujuan yayasan.
  5. Anggota Pembina tidak di beri gaji dan atau tunjangan oleh yayasan.
  6. Dalam hal yayasan oleh karena sebab apapun tidak mempunyai anggota Pembina, maka dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya kekososngan tersebut wajib di angkat anggota Pembina berdasarkan keputusan Rapat Gabungan Anggota Pengawas dan Anggota Pengurus.
  7. Seorang anggota Pembina berhak mengundurkan diri dari jabatannya dengan memberitahukan secara tertulis mengenai maksud tersebut kepada yayasan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal pengunduran dirinya.

Pasal 8

  1. Masa jabatan pembina tidak di tentukan lamanya.
  2. Jabatan anggota pembina akan berakhir dengan sendirinya apabila anggota pembina tersebut:
  3. Meninggal dunia;
  4. Mengundurkan diri dengan pemberitahuan secara tertulis sebagaimana diatur dalam pasal 7 ayat 7;
  5. Tidak lagi memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  6. Diberhentikan berdasarkan keputusan rapat pembina;
  7. Dinyatakan pailit atau ditaruh dibawah pengampuan berdasarkan surat penetapan pengadilan;
  8. Dilarang untuk menjadi anggota pembian karena peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  9. Anggota pembina tidak boleh merangkap sebagai anggota pengurus dan atau anggota pengawas.

TUGAS DAN WEWENANG PEMBINA

Pasal 9

  1. Pembina berwenang bertindak untuk dan atas nama pembina.
  2. Kewenangan pembina meliputi:
  3. Keputusan mengenai perubahan anggaran dasar;
  4. Pengangkatan dan pemberhentian anggota pengurus dan anggota pengawas;
  5. Penetapan kebijakan umum yayasan berdasarkan anggaran dasar yayasan;
  6. Pengesahan program kerja dan rancangan anggaran tahunan yayasan;dan
  7. Penetapan keputusan mengenai penggabungan atau pembubaran yayasan;
  8. Pengesahan laporan tahunan;
  9. Penunjukan likuidator dalam hal yayasan dibubarkan.
  10. Wewenang lainnya yang tidak diberikan kepada pengurus dan pengawas berdasarkan anggaran dasar ini dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  11. Dalam hal hanya ada seorang anggota pembina, maka segala tugas dan wewenang yang diberikan kepada ketua pembina atau anggota pembina berlaku pula baginya.

 

RAPAT PEMBINA

Pasal 10

  1. Rapat Pembina di adakan paling sedikit sekali dalam 1 (satu) tahun, paling lambat dalam waktu 5 (lima) bulan setelah akhir tahun buku sebagai Rapat Tahunan, sebagaimana di maksud dalam pasal 12, Pembina dapat juga mengadakan Rapat setiap waktu bila di anggap perlu atas permintaan tertulis dari seorang atau lebih anggota Pembina, anggota Pengurus, atau anggota Pengawas.
  2. Panggilan Rapat Pembina di lakukan oleh Pembina secara langsung, atau melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum Rapata di adakan dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal Rapat.
  3. Panggilan Rapat itu harus mencantumkan hari, tanggal, waktu, tempat dan acara Rapat.
  4. Rapat Pembina di adakan di tempat kedudukan Yayasan, atau di tempat kegiatan Yayasan, atau di tempat lain dalam wilayah hukum Republik Indonesia.
  5. Dalam hal semua anggota Pembina hadir, atau di wakili, panggilan tersebut tidak di syaratkan dan rapat Pembina dapat di adakan dimanapun juga dan berhak mengambil keputusan yang sah dan mengikat.
  6. Rapat Pembina di pimpin oleh Ketua Pembina, dan jika Ketua Pembina tidak hadir atau berhalangan, maka Rapat Pembina akan di pimpin oleh seorang yang dipilih oleh dan dari anggota Pembina yang hadir.
  7. Seorang anggota Pembina hanya dapat di wakili oleh anggota Pembina lainnya dalam Rapat Pembina berdasarkan surat Kuasa.

Pasal 11

  1. Rapat Pembina adalah sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat apabila :
  2. Di hadiri paling sedikit 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota Pembina;
  3. Dalam hal korum sebagaimana di maksud dalam ayat 1 huruf a tidak tercapai, maka dapat di adakan pemanggilan Rapat Pembina kedua;
  4. Pemanggilan sebagaimana yang di maksud dalam ayat 1 huruf b, harus dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum Rapat di selenggarakan, dengan tidak memperhitumgkan tanggal panggilan dan tanggal Rapat;
  5. Rapat Pembina kedua di selenggarakan paling cepat 10 (sepuluh) hari dan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari terhitung sejak rapat pembina pertama;
  6. Rapat Pembina kedua adalah sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat, apabila di hadiri lebih dari ½ (satu perdua) jumlah anggota Pembina.
  7. Keputusan Rapat Pembina di ambil berdasarkan musyawarah bentuk mufakat.
  8. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka keputusan di ambil berdasarkan suara setuju lebih dari ½ (satu perdua) jumlah suara yang sah.
  9. Dalam hal suara setuju dan tidak setuju sama banyaknya, maka usul di tolak.
  10. Tata cara pemungutan suara dilakukan sebagai berikut :
  11. Setiap anggota Pembina yang hadir berhak mengeluarkan 1 (satu) suara dan tambahan 1 (satu) suara untuk setiap anggota Pembina lain yang diwakilinya;
  12. Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan dengan surat tertutup tanpa tanda tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai hal – hal lain dilakukan secara terbuka dan di tanda tangani, kecuali Ketua rapat menentukan lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir;
  13. Suara yang abstain dan suara yang tidak sah tidak di hitung dalam menentukan jumlah yang di keluarkan.
  14. Rapat Pembina dibuat berita acara rapat yang di tanda tangani oleh Ketua rapat dan sekretaris rapat.
  15. Penanda tanganan sebagaimana di maksud dalam ayat 6 tidak di syaratkan apabila berita acara rapat di buat dengan Akta Notaris.
  16. Pembina dapat mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan rapat Pembina, dengan ketentuan semua anggota Pembina telah di beritahu secara tertulis dan semua anggota Pembina memberikan persetujuan mengenai usul yang di ajukan secara tertulis serta menanda tangani persetujuan tersebut.
  17. Keputusan yang di ambil sebagaimana di maksud dalam ayat 8, mempunyai kekuatan yang sam dengan keputusan yang di ambil dengan sah dalam rapat Pembina.
  18. Dalam hal hanya ada 1 (satu) orang Pembina maka dia dapat mengambil keputusan yang sah dan mengikat.

RAPAT TAHUNAN

Pasal 12

  1. Pembina wajib menyelenggarakan rapat tahunan setiap tahun, paling lambat 5 (lima) bulan setelah tahun buku Yayasan di tutup.
  2. Dalam rapat tahunan, Pembina melakukan :
  3. Evaluasi tentang harta kekayaan, hak dan kewajiban Yayasan tahun yang lampau sebagai dasar pertimbangan bagi perkiraan mengenai perkembangan Yayasan untuk tahun yang akan datang;
  4. Pengesahan Laporan Tahunan yang di ajukan Pengurus;
  5. Penetapan kebijakan umum Yayasan;
  6. Pengesahan program kerja dan rancangan anggaran tahunan Yayasan
  7. Pengesahan laporan tahunan oleh pembina dalam rapattahunan, berarti memberikan pelunasan dan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada para anggotaPengurus dan Pengawas atas pengurusan dan Pengawasan yang telah di jalankan selama tahun buku yang lalu, sejauh tindakan tersebut tercermin dalam Laporan Tahunan dan tidak melanggar ketentuan Anggaran Dasar dan peraturan perundang – undangan yang berlaku.

PENGURUS

Pasal 13

  1. Pengurus adalah organ Yayasan yang melaksanakan kepengurusan Yayasan yang sekurang – kurangnya terdiri dari :
  • Seorang Ketua;
  • Seorang Sekretaris; dan
  • Seorang Bendahara.
  1. Dalam hal diangkat lebih dari 1 (satu) orang Ketua, maka 1 (satu) orang diantaranya diangkat sebagai Ketua Umum.
  2. Dalam hal diangkat lebih dari 1 (satu) orang Sekretaris, maka 1 (satu) orang diantaranya diangkat sebagai Sekretaris Umum.
  3. Dalam hal diangkat lebih dari 1 (satu) orang Bendahara, maka 1 (satu) orang diantaranya diangkat sebagai Bendahara Umum.

Pasal 14

  1. Yang dapat diangkat sebagai anggota Pengurus adalah orang perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum dan tidak dinyatakan bersalah dalam melakukan Pengurusan Yayasan yang menyebabkan kerugian bagi Yayasan, Masyarakat, atau Negara berdasarkan putusan Pengadilan, dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal putusan tersebut berkekuatan hukum tetap.
  2. Pengurus diangkat oleh Pembina melalui Rapat Pembina untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali.
  3. Pengurus dapat menerima gaji, upah, atau honorarium apabila Pengurus Yayasan :
  4. Bukan pendiri Yayasan dan tidak terafiliasi dengan Pendiri, Pembina, dan Pengawas; dan
  5. Melaksanakan kepengurusan Yayasan secara langsung dan penuh.
  6. Dalam hal jabatan Pengurus kosong, maka dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya kekosongan, Pembina harus menyelenggarakan rapat, untuk mengisi kekosongan itu.
  7. Dalam hal semua jabatan Pengurus kosong, maka dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya kekosongan tersebut, Pembina harus menyelenggarakan rapat untuk mengangkat Pengurus baru dan untuk sementara Yayasan di urus oleh Pengawas.
  8. Pengurus berhak mengundurkan diri dari jabatannya, dengan memberitahukan secara tertulis mengenai maksudnya tersebut kepada Pembina paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal pengunduran dirinya.
  9. Dalam hal terdapat penggantian Pengurus Yayasan, maka dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal dilakukan penggantian Pengurus Yayasan, Pengurus wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan Instansi terkait.
  10. Pengurus tidak dapat merangkap sebagai Pembina, Pengawas atau Pelaksana Kegiatan.

Pasal 15

Jabatan anggota Pengurus berakhir apabila :

  1. Meninggal dunia
  2. Mengundurkan diri
  3. Bersalah melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan yang diancam dengan hukuman penjara paling sedikit 5 (lima) tahun.
  4. Diberhentikan berdasarkan keputusan Rapat Pembina.
  5. Masa jabatan berakhir.

 

TUGAS DAN WEWENANG PENGURUS

Pasal 16

  1. Pengurus bertanggung jawab penuh atas kepengurusan yayasan untuk kepentingan Yayasan.
  2. Pengurus wajib menyusun program kerja dan rancangan anggaran tahunan Yayasan untuk disahkan Pembina.
  3. Pengurus wajib memberikan penjelasan tentang segala hal yang ditanyakan oleh Pengawas.
  4. Setiap anggota Pengurus wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugasnya dengan mengindahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  5. Pengurus berhak mewakili Yayasan di dalam dan di luar pengadilan tentang segala hal dan dalam segala kejadian, dengan pembatasan terhadap hal-hal sebagai berikut :
    1. Meminjam atau meminjamkan uang atas nama Yayasan (tidak termasuk mengambil uang Yayasan di Bank);
    2. Mendirikan suatu usaha baru atau melakukan penyertaan dalam berbagai bentuk usaha baik di dalam maupun di luar negeri;
    3. Memberi atau menerima pengalihan atas harta tetap;
    4. Membeli atau dengan cara lain mendapatkan/ memperoleh harta tetap atas nama Yayasan;
    5. Menjual atau dengan cara lain melepaskan kekayaan Yayasan serta mengagunkan/ membebani kekayaan Yayasan;
    6. Mengadakan perjanjian dengan organisasi, badan hukum, perorangan, instansi pemerintah atau badan-badan atau bentuk usaha lainnya baik yang terafiliasi maupun yang tidak terafiliasi dengan Yayasan, Pembina, Pengurus dan atau Pengawas Yayasan atau seorang yang bekerja pada Yayasan, yang perjanjian tersebut bermanfaat bagi tercapainya maksud dan tujuan Yayasan;
  6. Perbuatan Pengurus sebagaimana diatur dalam ayat 6 huruf a,b, c, d, e, dan f harus mendapat persetujuan dari Pembina;

Pasal 17

Pengurus tidak berwenang mewakili Yayasan dalam hal :

  1. Mengikat Yayasan sebagai penjamin utang;
  2. Membebani kekayaan Yayasan untuk kepentingan pihak lain;
  3. Mengadakan perjanjian dengan organisasi, badan hukum, perorangan, instansi pemerintah atau badan-badan atau bentuk usaha lainnya baik yang terafiliasi maupun yang tidak terafiliasi dengan yayasan atau seseorang yang bekerja pada Yayasan;
  4. Mengadakan transaksi akuisisi, penjualan, hibah atau pengalihan lainnya atas harta kekayaan yayasan yang nilainya melebihi Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) atau jumlah yang sama dengan mata uang lainnya, baik dalam satu kali transaksi atau beberapa kali transaksi dalam satu tahun buku;
  5. Meminjam atau meminjamkan atas nama Yayasan
  6. Mengambil alih suatu kewajiban atau menimbulkan suatu kewajiban yang menurut sifatnya menyebabkan Yayasan diwajibkan membayar sejumlah uang yang melebihi Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) atau jumlah yang sama dengan mata uang lainnya;
  7. Menyetujui laporan keuangan yang telah diaudit dan rencana kerja Yayasan termasuk Anggaran/ Budget, pengeluaran-pengeluaran atas modal kerja dan pengalokasian serta pendistribusian atas kelebihan uang tunai;
  8. Setiap kegiatan pengeluaran diluar rencana kerja tahunan dan rencana keuangan tahunan Yayasan;
  9. Mengadakan perjanjian dengan pihak ketiga dengan nilai transaksi di atas Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) atau jumlah yang sama dengan mata uang lainnya;
  10. Mengeluarkan kebijakan dan/atau program sehubungan dengan manajemen sekolah yang akan dan/atau telah dimiliki yayasan, baik akademik maupun non akademik;
  11. Mempekerjakan atau memberhentikan karyawan yayasan baik staff akademik maupun staff non akademik;
  12. Merubah anggaran atau program atau tujuan dari Yayasan;
  13. Memindahkan atau memutasikan atau menggantikan karyawan Yayasan baik staff akademik maupun staff non akademik;
  14. Merubah kebijakan atau aturan yang telah ditetapkan oleh Pembina atau Yayasan;
  15. Menaikkan atau menurunkan gaji karyawan Yayasan baik staff akademik maupun staff non akademik;
  16. Merubah penunjukan orang yang berwenang untuk menandatangani dokumen-dokumen bank atau dokumen-dokumen lainnya;
  17. Membuat pernyataan-pernyataan publik atau konferensi pers;
  18. Mengambil dan atau menggunakan setiap dan seluruh hak kekayaan intelektual yayasan yang dimiliki yayasan baik langsung maupun tidak langsung termasuk namun tidak terbatas pada merek, dokumen-dokumenn, manual, kurikulum dan disain;
  19. Membuka informasi rahasia milik Yayasan;
  20. Merubah interior dan disain dari sekolah-sekolah atau bangunan-bangunan yang telah dan/atau akan dimiliki Yayasan;

Kewenangan sebagaimana dimaksud diatas menjadi kewenangan dari Pembina dan harus dilaksanakan keputusan Rapat Pembina;

Pasal 18

  1. Ketua Umum bersama-sama dengan seorang anggota Pengurus lainnya berwenang bertindak untuk dan atas nama pengurus serta mewakili Yayasan;
  2. Dalam hal ketua Umum tidak hadir atau berhalangan karena sebab apapun juga, hal tersebut tidak perlu dibuktikan kepada pihak ketiga, maka seorang ketua lainnya bersama-sama dengan Sekretaris Umum atau apabila Sekretaris umum tidak hadir atau berhalangan karena sebab apapun juga, hal tersebut tidak perlu dibuktikan kepada pihak ketiga, seorang ketua lainnya bersama-sama dengan seorang sekretaris lainnya berwenang bertindak untuk dan atas nama Pengurus serta mewakili Yayasan;
  3. Dalam hal hanya ada seorang Ketua, maka egaala tugas dan wewenang yang diberikan kepada Ketua Umum berlaku juga baginya;
  4. Sekretaris Umum bertugas mengelola administrasi Yayasan, dalam hal hanya ada seorang sekretaris, maka segala tugas dan wewenang yang diberikan kepada Sekretaris Umum berlaku juga baginya;
  5. Bendahara Umum bertugas mengelola keuangan Yayasan, dalam hal hanya ada seorang bendahara, maka segala tugs dan wewenang yang diberikan kepada Bendahara Umum berlaku juga baginya;
  6. Pembagian tugas dan wewenang setiap anggota Pengurus ditetapkan oleh Pembina melalui Rapat Pembina;
  7. Pengurus untuk perbuatan tertentu berhak mengangkat seorang atau lebih wakil kuasanya berdasarkan surat kuasa;

PELAKSANA KEGIATAN

Pasal 19

  1. Pengurus berwenang mengangkat dan memberhentikan Pelaksana Kegiatan Yayasan berdasarkan keputusan Rapat Pengurus;
  2. Yang dapat diangkat sebagai Pelaksana Kegiatan Yayasan adalah orang perseorangan yag mampu melakukan perbuatan hukum dan tidak pernah dinyatakan pailit atau dipidana karena melakukan tindakan yang merugikan Yayasan, Masyarakat, atau Negara berdasarkan keputusan pengadilan, dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal putusan tersebut berkekuatan hukum tetap;
  3. Pelaksana Kegiatan Yayasan diangkat oleh Pengurus berdasarkan keputusan Rapat Pengurus untuk jangka waktu tertentu dan dapat diangkat kembali dengan tidak mengurangi keputusan Rapat Pengurus untuk memberhentikan sewaktu-waktu;
  4. Pelaksana Kegiatan Yayasan bertanggung jawab kepada Pengurus;
  5. Pelaksana Kegiatan Yayasan menerima gaji, upah, atau honorarium yang jumlahnya ditentukan berdasarkan keputusan Rapat Pengurus;

Pasal 20

  1. Dalam hal terjadi perkara di pengadilan antara Yayasan dengan anggota Pengurus atau apabila kepentingan pribadi seorang Pengurus bertentangan dengan Yayasan, maka anggota Pengurus yang bersangkutan tidak berwenang bertindak utuk dan atas nama Pengurus serta mewakili Yayasan, maka anggota Pengurus lainnya bertindak untuk dan atas nama Pengurus serta mewakili Yayasan;
  2. Dalam hal Yayasan mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan seluruh Pengurus, maka Yayasan diwakili oleh Pengawas;

 

RAPAT PENGURUS

Pasal 21

  1. Rapat Pengurus dapat diadakan setiap waktu bila dipandang perlu atas permintaan tertulis dari satu orang atau lebih Pengurus, Pengawas, atau Pembina;
  2. Panggilan Rapat Pengurus dilakukan oleh Pengurus yang berhak mewakili Pengurus;
  3. Panggilan Rapat Pengurus disampaikan kepada setiap anggota pengurus secara langsung, atau melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat;
  4. Panggilan Rapat Pengurus itu harus mencantumkan tanggal, waktu, tempat dan acara rapat;
  5. Rapat Pengurus iadakan di tempat kedudukan Yayasan atau di tempat kegiatan Yayasan;
  6. Rapat Pengurus dapat diadakan di tempat lain dalam wilayah Republik Indonesia denga persetujuan Pembina;

Pasal 22

  1. Rapat Pengurus dipimpin oleh Ketua Umum
  2. Dalam hal Ketua Umum tidak dapat hadir atau berhalangan, maka Rapat Pengurus akan dipimpin oleh seorang anggota Pengurus yang dipilih oleh dan dari Pengurus yang hadir;
  3. Satu orang Pengurus hanya dapat diwakili oleh Pengurus lainnya dalam Rapat Pengurus berdasarkan surat kuasa;
  4. Rapat Pengurus sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat apabila;
    1. Dihadiri paling sedikit 2/3 (dua pertiga) jumlah Pengurus;
    2. Dalam hal korum sebagaimana dimaksud ayat 4 huruf a tidak tercapai, maka dapat diadaka pemanggilan Rapat Pengurus kedua;
    3. Pemanggilan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 4 huruf b, harus dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diselenggarakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat;
    4. Rapat Pengurus kedua diselenggarakan paling cepat 10 (sepuluh) hari dan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari terhitung sejak Rapat Pengurus pertama;
    5. Rapat Pengurus kedua sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat, apabila dihadiri lebih dari ½ (satu perdua) jumlah Pengurus;

Pasal 23

  1. Keputusan Rapat Pengurus harus diambil berdasarka musyawarah untuk mufakat;
  2. Dalam hal keputusa berdasarkan musyawarah untuk mefakat tidak tercapai, maka keputusan diabil berdasarkan suara setuju lebih dari ½ (satu per dua) jumlah suara yang sah;
  3. Dalam hal suara setuju dan tidak setuju sama banyaknya, maka usul ditolak;
  4. Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan dengan surat suara tertutup tanpa tanda tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai hal-hal lain dilakukan secara terbuka, kecuali ketua Rapat menentukan lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir;
  5. Suara abstain dan suara yang tidak sah tidak dihitung dalam menentukan jumlah suara yang dieluarkan;
  6. Setiap Rapat Pengurus dibuat berita acara rapat yang ditandatangani oleh Ketua Rapat dan 1 (satu) orang anggota Pengurus lainnya yang ditunjuk oleh rapat sebagai Sekretaris Rapat;
  7. Penandatanganan yang dimaksud dalam ayat 6 tidak disyaratkan apabila Berita Acara Rapat dibuat dengan Akta Notaris;
  8. Pengurus dapat juga mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan Rapat Pengurus, dengan ketentuan semua anggota Pengurus telah diberitahu secara tertulis dan semua anggota Pengurus memberikan persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis serta menandatangani persetujuan tersebut;
  9. Keputusan yang diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat 8, mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil dengan sah dalam Rapat Pengurus;

PENGAWAS

Pasal 24

  1. Pengawas adalah organ Yayasan yang bertugas melakukan pengawasan dan memberi nasehat kepada Pengurus dalam menjalankan kegiatan Yayasan;
  2. Pengawas terdiri dari 1 (ssatu) orang atau lebih anggota Pengawas;
  3. Dalam hal diangkat lebih dari 1 (satu) orang Pengawas maka satu orang diantaranya dapat diangkat sebagai Ketua Pengawas;

Pasal 25

  1. Yang dapat diangkat sebagai anggota Pengawas adalah orang perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum dan tidak dinyatakan bersalah dalam melakukan pengawasan Yayasan yang menyebabkan kerugian bagi Yayasan, masyarakat atau negara berdasarkan putusan pengadilan, dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal putusan tersebut berkekuatan hukum tetap;
  2. Pengawas diangkat oleh Pembina melalui Rapat Pembina untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali;
  3. Dalam hal jabatan pengawas kosong, maka dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjdinya kekosongan, Pembina harus menyelenggarakan Rapat untuk mengisi kekosongan itu;
  4. Dalam hal semua jabatan Pengawas kosong, maka dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya kekosongan tersebut, Pembina harus menyelenggarakan rapat untuk mengangkat Pengawas baru, dan untuk sementara Yayasan diurus oleh Pengurus;
  5. Pengawas berhak mengundurkan diri dari jabatannya, dengan memberitahukan secara tertulis mengenai maksud tersebut kepada Pembina paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal pengunduran dirinya;
  6. Dalam hal terdapat penggantian Pengawas Yayasan, maka dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal dilakukan penggantian Pengawas Yayasan, Pengurus wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan Instansi terkait;
  7. Pengawas tidak dapat merangkap sebagai Pembina, Pengurus, atau Pelaksana Kegiatan.

Pasal 26

Jabatan Pengawas berakhir apabila :

  1. Meninggal dunia;
  2. Mengundurkan diri;
  3. Bersalah melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan yang diancam dengan hukuman penjara paling sedikit 5 (lima) tahun;
  4. Diberhentikan berdasarkan keputusan Rapat Pembina;
  5. Masa jabatan berakhir;

TUGAS DAN WEWENANG PENGAWAS

Pasal 27

  1. Pengawas wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas pengawasan untuk kepentingan Yayasan;
  2. Ketua Pengaws dan satu anggota Pengawas berwenang bertindak untuk dan atas nama Pengawas;
  3. Pengawas berwenang :
  4. Memasuki bangunan, halaman, atau tempat lain yang dipergunakan Yayasan;
  5. Memeriksa dokumen;
  6. Memeriksa pembukuan dan mencocokkannya dengan uang kas; atau
  7. Mengetahui segala tindakan yang dijalankan oleh Pengurus;
  8. Memberi peringatan kepada Pengurus;
  9. Pengawas dapat memberhentikan untuk sementara 1 (satu) orang atau lebih Pengurus, apabila Pengurus tersebut bertindak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan atau peraturan perundag-undangan yang berlaku;
  10. Pemberhentian sementara itu harus diberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan disertai alasannya;
  11. Dalam jangka 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal pemberhentian sementara itu, Pengawas diwajibkan utuk melaporkan secara tertulis kepada Pembina;
  12. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal laporan diterima oleh Pembina sebagaimana dimaksud dalam ayat 6, maka Pembina wajib memanggil anggota Pengurus yang bersangkutan untuk diberi kesempatan membela diri;
  13. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal pembelaan diri sebagaimana dimaksud dalam ayat 7, Pembina dengan keputusan Rapat Pembina wajib :
  14. Mencabut keputusan pemberhentian sementara; atau
  15. Memberhentikan anggota Pengurus yang bersangkutan;
  16. Dalam hal Pembina tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat 7 dan ayat 8, maka pemberhentian sementara batal demi hukum dan yang bersangkutan menjabat kembali jabatannya semula;
  17. Dalam hal seluruh Pengurus diberhentikan sementara, maka untuk sementara Pengawas diwajibkan mengurus Yayasan;

RAPAT PENGAWAS

Pasal 28

  1. Rapat Pengawas dapat diadakan setip waktu bila dianggap perlu atas permintaan tertulis dari seorang atau lebih Pengawas atau Pembina;
  2. Panggilan Rapat Pengawas dilakukan oleh Pengawas yang berhak mewakili Pengaws
  3. Panggilan Rapat Pengawas disampaikan kepada setiap Pengawas secara langsung, atau melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat;
  4. Panggilan Rapat itu harus mencantumkan tanggal, waktu, tempat, dan acara rapat;
  5. Rapat Pengawas diadakan di tempat kedudukan Yayasan atau di tempat kegiatan Yayasan;
  6. Rapat Pengawas dapat diadakan di tempat lain dalam wilayah hukum Republik Indonesia dengan persetujuan Pembina;

Pasal 29

  1. Rapat Pengawas dipimpin oleh Ketua;
  2. Dalam hal Ketua tidak dapat hadir atau berhalangan, maka Rapat Pengawas akan dipimpin oleh satu orang Pengawas yang dipilih oleh dan dari Pengawas yang hadir;
  3. Satu orang anggora Pengawas hanya diwakili oleh Pengawas lainnya dalam Rapat Pengawas berdasarkan surat kuasa;
  4. Rapat Pengawas sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat apabila :
  5. Dihadiri paling sedikit 2/3 (dua pertiga) dari jumlah Pengawas;
  6. Dalam hal korum sebagaimana dimaksud ayat 4 huruf a tidak tercapai, maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Pengawas kedua;
  7. Pemanggilan sebagaimana yang diaksud dalam ayat 4 huruf b, harus dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diselenggarakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat;
  8. Rapat Pengawas kedua diselenggarakan paling cepat 10 (sepuluh) hari dan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari dari terhitung sejak Rapat Pengawas pertama;
  9. Rapat Pengawas kedua adalah sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat, apabila dihadiri oleh paling sedikit ½ (satu perdua) jumlah Pengawas;

Pasal 30

  1. Keputusan Rapat Pengawas harus diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat;
  2. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan suara setuju lebih dari ½ (satu per dua) jumlah suara yang sah;
  3. Dalam hal suara setuju dan tidak setuju sama banyaknya, maka usul ditolak;
  4. Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan dengan suara tertutup tanpa tanda tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai hal-hal lain dilakukan secara terbuka, kecuali Ketua Rapat menentukan lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir;
  5. Suara abstain dan suara tidak sah tidak dihitung dalam menentukan jumlah suara yang dikeluarkan;
  6. Setiap Rapat Pengawas dibuat berita acara yang ditanda tangani oleh Ketua Rapat dan 1 (satu) orang anggota Pengawas lainnya yang ditunjuk oleh rapat sebagai Sekretaris Rapat;
  7. Penandatangan yang dimaksud dalam ayat 6 tidak disyaratkan apabila Berita Acara Rapat dibuat dengan akta Notaris;
  8. Pengawas dapat juga mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan Rapat Pengawas, dengan ketentuan semua Pengawas telah diberitahu secara tertulis dan semua Pengawas memberikan persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis dengan menandatangani usul tersebut;
  9. Keputusan yang diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat 8, mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil dengan sah dalam Rapat Pengawas;

RAPAT GABUNGAN

Pasal 31

  1. Rapat gabungan adalah rapat yang diadakan oleh Pengurus dan Pengawas untuk mengangkat Pembina, apabila Yayasan tidak lagi mempunyai Pembina;
  2. Rapat gabungan diadakan paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak Yayasan tidak lagi mempunyai Pembina;
  3. Panggilan Rapat Gabungan dilakukan oleh Pengurus;
  4. Panggilan Rapat Gabungan disampaikan kepada setiap Pengurus dan Pengawas secara langsung, atau melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat;
  5. Panggilan Rapat itu harus mencantumkan tanggal, waktu, tempat, dan acara rapat;
  6. Rapat Gabungan diadakan di tempat kedudukan Yayasan atau di tempat kegiatan Yayasan;
  7. Rapat Gabungan dipimpin oleh Ketua Pengurus;
  8. Dalam hal Ketua Pengurus tidak ada atau berhalangan hadir, maka Rapat Gabungan dipimpin oleh Ketua Pengawas;
  9. Dalam hal Ketua Pengurus dan Ketua Pengawas tidak ada atau berhalangan hadir, maka Rapat Gabungan dipimpin oleh Pengurus atau Pengawas yang dipilih oleh dan dari Pengurus dan Pengawas yang hadir;

Pasal 32

  1. Satu orang anggora Penguru hanya diwakili oleh Pengurus lainnya dalam Rapat Gabungan berdasarkan surat kuasa;
  2. Satu orang anggora Pengawas hanya diwakili oleh Pengawas lainnya dalam Rapat Gabungan berdasarkan surat kuasa;
  3. Setiap Pengurus atau Pengawas yang hadir berhak mengeluarkan 1 (satu) suara untuk setiap Pengurus atau Pengawas lain yang diwakilinya;
  4. Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan dengan surat suara tertutup tanpa tanda tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai hal-hal lain dilakukan secara terbuka, kecuali ketua Rapat menentukan lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir;
  5. Suara abstain dan suara tidak sah dianggap tidak dikeluarkan dan dianggap tidak ada;

KORUM DAN PUTUSAN RAPAT GABUNGAN

Pasal 33

  1. Rapat Gabungan adalah sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat apabila dihadiri paling sedikit 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota Pengurus dan 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota Pengawas;
  2. Dalam hal korum sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 1 huruf a tidak tercapai, maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Gabungan kedua;
  3. Pemanggilan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 1 huruf b, harus dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diselenggarakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat;
  4. Rapat Gabungan kedua diselenggarakan paling cepat 10 (sepuluh) hari dan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari terhitung sejak Rapat Gabungan pertama;
  5. Rapat Gabungan kedua adalah sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat apabila dihadiri paling sedikit ½ (satu perdua) dari jumlah anggota Pengurus dn ½ (satu perdua) dari jumlah anggota Pengawas;
  6. keputusan rapat Gabungan sebagaimana tersebut di atas ditetapkan berdasarkan musyawarah untuk mufakat;
  7. dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka keputusan diambil dengan pemungutan suara berdasarkan suara setuju paling sedikit 2/3 (dua pertiga) bagian dari jumlah suara yang sah yang dikeluarkan dalam rapat;
  8. Setiap Rapat Gabungan dikeluarkan Berita Acara Rapat, yang untuk pengesahanya ditandatangani oleh Ketua Rapat dan 1 (satu) orang anggota Pengurus atau anggota Pengawas yang ditunjuk oleh rapat;
  9. Berita Acara sebagaimana dimaksud dalam ayat 4 menjadi bukti yang sah terhadap Yayasan dan pihak ketiga tentang keputusan dan segala sesuatu yang terjadi dalam rapat;
  10. Penandatangan sebagaimana dimksud dalam ayat 4 tidak disyaratkan apabila Berita Acara Rapat dibuat dengan akta Notaris;
  11. Anggota Pengurus dan anggota Pengawas dapat juga mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan Rapat Gabungan, dengan ketentuan semua Pengurus dan semua Pengawas telah diberitahu secara tertulis dan semua Pengurus dan semua Pengawas memberikan persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis, dengan menandatangani usul tersebut;
  12. Keputusan yang diambil dengan cara sebagaimana dimaksud dalam ayat 7 mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil dengan sah dalam Rapat Gabungan;

TAHUN BUKU

Pasal 34

  1. Tahun buku Yayasan dimulai tanggal 1 (satu) Januari sampai dengan tanggal 31 (tiga puluh satu) Desember;
  2. Pada akhir Desember tiap tahun, buku Yayasan ditutup.
  3. Untuk pertama kalinya tahun buku Yayasan dimulai pada tanggal dari Akta Pendirian Yayasan dan ditutup tanggal 31 (tiga puluh satu) Desember;

LAPORAN TAHUNAN

Pasal 35

  1. Pengurus wajib menyusun secara tertulis laporan tahunann paling lambat 5 (lima) bulan setelah berakhirnya tahun buku Yayasan;
  2. Laporan tahunan memuat sekurang-kurangnya :
  3. Laporan keadaan dan kegiatan Yayasan selama tahun buku yang lalu serta hasil yang telah dicapai;
  4. Laporan keuangan yang terdiri atas laporan posisi keuangan pada akhir periode, laporan aktivitas, laporan arus kas dan catatan laporan keuangan;
  5. Laporan tahunan wajib ditandatangani oleh Pengurus dan Pengawas;
  6. Dalam hal terdapat anggota Pengurus atau Pengawas yang tidak menandatangani laporan tersebut, maka yang bersangkutan harus menyebutkan alasan tertulis;
  7. Laporan tahuna disahkan oleh Pembina dalam rapat tahunan;
  8. Ikhtisar laporan tahunan Yayasan disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku dan diumumkan pada papan pengumuman di kantor Yayasan;

PERUBAHAN ANGGARAN DASAR

Pasal 36

  1. Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat dilaksanakan berdasarkan keputusan Rapat Pembina, yang dihadiri paling sedikit 2/3 (dua per tiga) dari jumlah Pembina;
  2. Keputusan diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat;
  3. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk musfakat tidak tercapai, maka keputusan ditetapkan berdasarkan persetujuan paling sedikit 2/3 (dua per tiga) dari seluruh jumlah Pembina yang hadir atau yang diwakili;
  4. Dalam hal korum sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 tidak tercapai, maka diadakan pemanggilan Rapat Pembina yang kedua paling cepat 3 (tiga) hari terhitung sejak tanggal Rapat Pembina yang pertaa;
  5. Rapat Pembina kedua tersebut sah, apabila dihadiri oleh lebih dari ½ (satu per dua) dari seluruh Pembina;
  6. Keputusan Rapat Pembina kedua tersebut sah, apabila diambil berdasarkan persetujuan suara terbanyak dari jumlah Pembina yang hadir atau yang diwakili;

Pasal 37

  1. Perubahan Anggaran Dasar dilakukan dengan akta Notaris dan dibuat dalam bahasa Indonesia;
  2. Perubahan Anggaran Dasar tidak dapat dilakukan terhadap maksud dan tujuan Yayasan;
  3. Perubahan Anggaran Dasar yang menyangkut perubahan nama dan kegiatan Yayasan, harus mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia;
  4. Perubahan Anggaran Dasar selain yang menyangkut hal-hal sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 cukup diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia;
  5. Perubahan Anggaran Dasar tidak dapat dilakukan pada saat Yayasan dinyatakan pailit, kecuali atas persetujuan kurator;

PENGGABUNGAN

Pasal 38

  1. Penggabungan Yayasan dapat dilakukan dengan menggabungkan 1 (satu) atau lebih Yayasan dengan Yayasan lain, dan mengakibatkan Yayasan yang menggabungkan diri menjadi bubar;
  2. Penggabungan Yayasan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dapat dilakukan dengan memperhatika :
  3. Ketidakmampuan Yayasan melaksanakan kegiatan usaha tanpa dukungan Yayasan lain;
  4. Yayasan yang menerima penggabungan dan yang bergabung kegiatannya sejenis; atau
  5. Yayasan yang menggabungkan diri tidak pernah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Anggaran Dasarnya, ketertiban umum dan kesusilaan
  6. Usul penggabungan Yayasan dapat disampaikan oleh Pengurus kepada Pembina;

Pasal 39

  1. Penggabungan Yayasan hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan Rapat Pembina yang dihadiri paling sedikit ¾ (tiga per empat) dari jumlah anggota Pembina dan disetujui paling sedikit ¾ (tiga per empat) dari seluruh jumlah anggota Pembina yang hadir;
  2. Pengurus dari masing-masing Yayasan yaang akan menggabungkan diri dan yang akan menerima penggabungan menyusun usul rencana penggabungan;
  3. Usul rencana penggabungan sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 dituangkan dalam ranangan akta penggabungan oleh Pengurus dari Yayasan yang akan menggabungkan diri dan yang akan menerima penggabungan;
  4. Rancangan akta penggabungan harus mendapat persetujuan dari Pembina masing-masing Yayasan;
  5. Rancangan sebagaimana dimaksud dalam ayat 4 dituangkaan dalam akta penggabungan yang dibuat di hadapan Notaris dalam bahasa Indonesia;
  6. Pengurus Yayasan hasil penggabungan wajib mengumumkan hasil penggabungan dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak penggabungan selesai dilakukan;
  7. Dalam hal penggabungan Yayasan diikuti dengan perubahan Anggaran Dasar yang memerlukan persetujuan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, maka akta perubahan Anggaran Dasar yayasan wajib disampaikan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk memperoleh persetujuan dengan dilampiri akta penggabungan;

PEMBUBARAN

Pasal 40

  1. Yayasan bubar karena :
  2. Alasan sebagaimana dimaksud dalam jangka waktu yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar berakhir;
  3. Tujuan Yayasan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar telah tercapai atau tidak tercapai;
  4. Putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap berdasarkan alasan;
    • Yayasan melanggar ketertiban umum; dan
    • Tidak mampu membayar utangnya setelah dinyatakan pailit; atau
    • Harta kekayaan Yayasan tidak cukup untuk melunasi utangnya setelah pernyataan pailit dicabut;
  5. Dalam hal Yayasan bubar sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 huruf a dan b, Pembina menunjuk likuidator untuk membereskan kekayaan Yayasan;
  6. Dalam hal tidak ditunjuk likuidator, maka Pengurus bertindak sebagai likuidator;
  7. Pembubaran Yayasan hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan Rapat Pembina yang dihadiri paling sedikit ¾ (tiga per empat) dari jumlah anggota Pembina dan disetujui paling sedikit ¾ (tiga per empat) dari seluruh jumlah anggota Pembina yang hadir;

Pasal 41

  1. Dalam hal Yayasan bubar, Yayasan tidak dapat melakukan perbuatan hukum, kecuali untuk membereskan kekayannya dalam proses likuidasi;
  2. Dalam hal yayasan sedang dalam proses likuidasi, untuk semua surat yang dikeluarkan dicantumkan frasa “dalam likuidasi” di belakang nama Yayasan;
  3. Dalam hal Yayasan bubar karena putusan pengadilan, maka pengadilan juga menunjuk likuidator;
  4. Dalam hal pembubaran Yayasan karena pailit, berlaku peraturan perundang-undangan di bidang kepailitan;
  5. Ketentuan engenai penunjukan, pengangkatan, pemberhentian sementara, pemberhentian, wewenang, kewajiban, tugas dan tanggung jawab, serta pengawasan terhadap Pengurus, berlaku juga bagi likuidator;
  6. Likuidator atau kurator yang ditunjuk untuk melakukan pemberesan kekayaan Yayasan yang bubar atau dibubarkan, paling lambat 5 (lima) hari terhitung sejak tanggal penunjukan wajib mengumumkan pembubaran Yayasan dan proses likuidasinya dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia;
  7. Likuidator atau kurator dalam jangka paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal proses likuidasi berakhir, wajib mengumumkan hasil likuidasi dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia;
  8. Likuidator atau kurator dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal proses likuidasi berakhir wajib melaporkan pembubaran Yayasan kepada Pembina;
  9. Dalam hal laporan mengenai pembubaran Yayasan sebagaimana dimaksud ayat 8 dan pengumuman hasil likuidasi sebagaimana dimaksud ayat 7 tidak dilakukan, maka bubarnya Yayasan tidak berlaku bagi pihak ketiga;

 

CARA PENGGUNAAN KEKAYAAN SISA LIKUIDASI

Pasal 42

  1. Kekayaan sisa hasil likuidasi diserahkan kepada Yayasan lain yang mempunyai maksud dan tujuan yang sama dengan Yayasan yang bubar;
  2. Kekayaan sisa hasil likuidasi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dapt diserahkan kepada badan hukum lain yang melakukan kegiatan yang sama dengan Yayasan yang bubar, apabila hal tersebut diatur dalam undang-undang yang berlaku bagi badan hukum tersebut;
  3. Dalam hal kekayaan sisa hasil likuidasi tidak diserahkan kepada Yayasan lain atau kepada badan hukum lain sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 an ayat 2, kekayaan tersebut diserahkan kepada Negara dan penggunaannya dilakukan sesuai dengan maksud dan tujuan Yayasan yang bubar;

 

PERATURAN PENUTUP

Pasal 43

  1. Hal-hal yang tidak diatur atau belum cukup diatur dalam Anggaran Dasar ini akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga dan diputuskan oleh Rapat Pembina;
  2. Anggaran Dasar ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan disaksikan oleh Notaris;

 

 

Ditetapkan di           : Jepara

Pada tanggal            : 31 Agustus 2015

Ketua Pembina

 

H. ROHMAT

Tentang ahsan ahmad

Lahir di Jepara, 12 Juli 1971 Aktif di organisasi kemasyarakatan dan mengabdi di lembaga pendidikan
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s